Bentrok Antara Polisi dan Massa di Lokalisasi Dolly

0
318

Surabaya – Bentrok antara polisi dan massa di eks lokalisasi Dolly-Jarak saat pemasangan papan informasi berbunyi ‘Kelurahan Putat Jaya, Kampung Bebas Lokalisasi Prostitusi’ berbuntut.

Polisi diadukan ke Komnas HAM oleh Front Pekerja Lokalisasi (FPL). Selain itu, FPL yang selama ini melakukan pendampingan kepada warga lokalisasi Dolly dan Jarak juga mengajukan gugatan secara hukum atas aksi kekerasan yang dilakukan kepolisian pada warga setempat.

“Tindakan represif yang dilakukan aparat hari Minggu, apapun alasannya tidak dibenarkan,” kata Ketua Tim Advokasi FPL Anis kepada wartawan, Rabu (30/7/2014).

Obat Pembesar Penis
obat pembesar penis

Saat ini, kata Anis, pihaknya masih mengumpulkan bukti dan fakta untuk disampaikan ke Komnas HAM. Beberapa bukti yang sudah dikumpulkan benda-benda di Posko FPL yang hilang, kerusakan fisik bangunan, pemeriksaan dokter dan bekas luka yang dialami sejumlah warga, rekaman video, foto dan rekaman audio yang berisikan suara komando lapangan yang menyatakan akan menyapu bersih kawasan Jalan Jarak.

Anis menambahkan, pihaknya juga membuka posko untuk menerima pengaduan warga yang menjadi sasaran pemukulan polisi. “Saat sudah ada 7 orang yang sudah melapor. Mereka mengalami luka bocor di kepala dan memar di wajah serta sekujur tubuh akibat dipukul dengan tangan, tongkat, ditendang, diinjak, dicekik dan lehernya dipiting,” ujarnya.

Ia menilai tindakan represif polisi terlalu berlebihan. Padahal kala itu, warga hanya menolak pemasangan papan informasi kampung bebas prostitusi di wilayah mereka di Jalan Jarak. Sedangkan papan papan di Girilaya dan depan Kelurahan Putat Jaya tidak diusik.

Pengrusakan papan informasi oleh warga itu, kata Anis yang dijadikan alasan polisi bertindak represif. “Harga papan itu berapa sih? Tidak sebanding dengan kondisi fisik dan psikis warga,” ungkap Anis.

Jika versi polisi menemukan senjata tajam, kata Anis, itu hanyalah pisau dapur berukuran kecil yang ditemukan di posko. Adapun bom molotov, tidak ada yang memastikan siapa pemiliknya.

Sedangkan pasal penghasutan dan pengrusakan yang dituduhkan kepada Koordinator FPL, Ari Saputro atau Pokemon juga terkesan mengada-ada. “Bagi aktivis, tuduhan pasal karet tentang penghasutan atau provokasi memang sudah biasa. Tapi untuk pengrusakan, tuduhan itu terlalu dipaksanakan,” imbuhnya.

Content Protection by DMCA.com
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here